Berbagi Cerita Naik KRL

Membaca artikel Kompas, Sabtu, 17 Februari 2007 di halaman 38 yang berjudul Jabodetabek, Serba Kusut dan Semrawut, Bunda jadi ingat suasana naik KRL selama 4 hari mulai Selasa 6 Februari sampai 9 Februari 2007 kemaren dari Bogor saat “mengungsi” karena banjir .Kereta jadi pilihan utama karena memang lebih cepat dibanding angkutan lain.Tiap hari ada aja pengalaman menarik yang Bunda dapatkan.Alhamdulillah Bunda tidak mengalami kejadian seperti Neng (20-an) dari Rangkasbitung yang diceritakan Kompas kalau dia habis ditodong pakai pisau oleh preman di dalam kereta.Tapi suasana yang diceritakan Kompas Bunda hampir mengalami semua.

Selasa, 6 Februari 2007

Bunda berangkat dari rumah kakak jam 07:05.Sebenarnya waktu itu masih ragu-ragu untuk berangkat kantor karena situasi Jakarta belum pulih benar akibat banjir.Naik 03 dari terminal Baranansiang, sudah agak kesal dengan penumpang yang duduk di sebelah Bunda merokok seenaknya.Padahal angkot penuh, kok ngga ada sungkannya ya tetep mengepulkan asap!Bunda ngga berani negur, penumpang yang lain sepertinya cuek aja walaupun ada yang kelihatannya terganggu juga.Mendekati stasiun Bunda ragu, kereta dah jalan belum ya? SMS dan telepon temen yang biasanya naik kereta, mau tanya kereta dah jalan belum, belum terjawab juga.Akhirnya pagi itu Bunda naik bus, perjalanannya hampir 4 jam!Macet karena jalan di

Jakarta

belumpulih akibat banjir dan memang jauh jaraknya.Ini jadi salah satu alasan kuat untuk naik kereta aja.

Bareng temen yang sudah berpengalaman naik KRL Bogor, Bunda jadi “berani” naik kereta pulang ke Bogor.Pengalaman hari pertama naik KRL.Harga tiket RP 11.000,- kereta ekspress.Kereta datang on time, tapi sudah penuh penumpang dari Kota.Bunda dapat masuk di gerbong 5 berdiri.Ngga lama kemudian ada mas-mas yang “njawil” Bunda.

”Mbak, duduk.”

“Terimakasih.” Wah, Bunda dikasih duduk sama Mas itu.Jarang lho yang begini, orang biasanya udah cuek duduk enak, ngga peduli orang tua, wanita,kalau dah dapat duduk duluan ya udah keenakan.He..he..kok jadi sirik gini ya…


Saat petugas tiket ngecek karcis, Bunda baru tahu kenapa Mas tadi ngasih tempat duduk ke Bunda (maaf Mas ini hanya praduga, terimakasih kalau memang ikhlas kasih tempat duduk Bunda..peace!).Mbak yang disebelah Bunda tiba-tiba berseru.

“Nih Mas tanya Bapak ini, kalau abonemen itu keretanya di gerbong berapa?”

“Wah, saya ngga tahu mbak, tanya aja sama Bapak itu.Bapak yang pakai topi (kondektur).”

“Gimana sih Pak, Bapak khan petugas, masa ngga tahu abonemen itu gerbong berapa?

Ketika Bapak kondektur sampai di depan mbak tadi, mbak tadi langsung berdiri.

“Pak, tolong jelasin sama mas ini abonemen itu gerbong berapa?”

Ada

apa nih mbak?”

“Saya khan punya abonemen, nih kartunya, tertulis jelas di gerbong 5 B 3.Mas itu malah bilang kata siapa?” dengan nada tinggi..

“Kalau masalah itu tanya di stasiun aja mbak.” Bapak itu sambil berlalu, ngga mau repot sepertinya.

“Gimana sih, petugas bego!Kereta ekspress kok penumpangnya berjubel gini dibiarin!Percuma saya beli abonemen, di tulis tempat duduknya!” Semua mata tertuju pada mbak itu.Sementara Mas tadi sempet bisik-bisik ke Bapak itu, kurang jelas apa yang diomongin…

Bunda hanya bisa menebak, sebelum Bunda naik ada “keributan” soal tempat duduk ini.Mbak itu punya abonemen, sementara Mas tadi beli tiket biasa.Naiknya duluan Mas itu dan menempati tempat duduk abonemen yang ngga tahu punya siapa, terus ribut-ribut tempat duduk tadi…begitu mungkin…

Sementara itu penumpang yang lain, ikut berdiskusi soal abonemen ini.

“Mana yang duluan aja lah, kita khan sama-sama beli tiket, ngga gratis.Saya juga abonemen, tapi kalau emang tempat duduk saya udah di dudukin orang lain, ya sudah ngalah ajah.”

“Iya, Pak bener, ngapain ribut-ribut.

Di kubu lain yang sepertinya teman mbaknya tadi bertolak belakang dengan yang dibicarakan Bapak tadi.

“Apa gunanya punya abonemen kalau berdiri juga.Telat dikit aja bayarnya didenda.Fasilitas ngga ada?Huh!”

Bunda ngga ikut-ikutan aah, ndengerin aja yang dibicarakan bapak-bapak, mbak-mbak, dan mas-mas.No comment!Halah kayak Desi Ratnasari…

Rabu, 7 Februari 2007

Sampai stasiun jam 07:30 pagi, langsung beli tiket sesuai yang tertulis di depan loket : Ekspress Bogor – Jakarta Rp 11.000,-.Sempet nanya ke Bapak yang antri loket di depan Bunda.

“Ini kereta yang jam 08:00, ya pak”

“Ngga, keretanya jam 08:30”

O, kirain jam 08:00, berarti masih 1 jam donk Bunda nunggu.Kata teman kemaren ekspress ada jam 08:00, semi ekspress jam 09:30.Lho, berarti tiket yang Bunda beli tadi semi ekspress donk?Weeee, rugi 3 ribu donk.Semi ekspress khan cuman Rp.9.000,-.Sudahlah

wis

terlanjur.

“Mestinya nanya petugasnya dulu, keretanya apa, berapa harganya, kata kakak Bunda waktu Bunda cerita masalah ini.”

Iya, ya Bunda terlalu PD ha..ha..langsung bayar sesuai harga yang ditempel.Lagian petugasnya kok diem aja ya dikasih uang Rp.11.000,- ngga mau ngembaliin, paling ngga kasih tahu donk ya, ini semi ekspress Cuma 9 ribu, gitu loh!

“Jangan diharap deh petugas akan kasih kembalian.Saya pernah uang Rp.50.000,-, saking paniknya kereta sudah dekat, kembalian lupa saya minta, saya balik lagi eh ngga dikasih juga!” cerita kakak.Yo

wis

ikhlaskan saja…

Menunggu pekerjaan yang menjemukan.Wah, bener banget,1 jam oeiiii…menunggu kereta.Situasi di stasiun sangat tidak enak!Lagi-lagi rokok yang jadi masalah besar.Bunda sebelll banget lihat orang ngga ada sopan santunnya urusan rokok ini.Klepas-klepus asapnya, bikin pusing!Pindah beberapa kali tetep aja diikutin sama orang-orang perokok ini.Bahkan ada anak-anak seumuran SD gitu yang sudah merokok, duh prihatin banget!PP larangan merokok itu hanya di Jakarta ya?Tapi sama saja, di Jakarta PP larangan merokok itu tidak ada gaungnya, orang masih tetep aja merokok di sembarang tempat.Belum lagi, Masya Allah banyak banget pengemis!Dari anak-anak hingga orang dewasa yang sehat tua muda.Yang bikin trenyuh ada sepasang suami istri yang (maaf) buta, nyebrang dari rel ke rel yang lain, bergandengan tangan demi menyambung hidup.Pengamen juga ngga kalah banyak.Ada satu grup yang nyanyinya bagus, bandnya lengkap, lagunya oke-oke.Mereka bediri berjajar dan menyediakan kardus untuk menaruh uang.Pedagang asongan dan koran ngga kalah seru menawarkan dagangannya.

Akhirnya kereta datang juga jam 08:25.Berebutan masuknya, alhamdulillah Bunda dapat duduk di gerbong 3.Leganya, langsung tidur!Baru bangun sampai di Manggarai.Rencananya Bunda mau turun Gondangdia, tapi untung Bunda nanya Bapak sebelah kalau kereta ini ngga berhenti di Gondangdia, jadi turunnya di Cikini.Habis itu naik P20, 5 menit dah sampai kantor.Cepet…

Pulangnya Bunda naik kereta lagi.Agak telat dari kantor jam 17:30.Bunda pikir nanti bakalan dapat yang jam 18:30.Tapi ternyata sampai di stasiun Gondangdia di loket masih tertulis ekspress Bogor jam 17:31.Alhamdulillah kereta belum datang.Langsung cepet-cepet beli tiket, ngga sampai 5 menit kereta datang.Hmm penuh lagi, tapi lumayan masih bisa lesehan di gerbong, jadi ngga berdiri!

Kamis, 8 Februari 2007

“Kereta semi ekspress yang seharusnya bernagkat pukul 08:25 menuju

Jakarta

, saat ini kereta masih berada di stasiun Manggarai.”

Wahhh masih lama donk nyampe Bogor.Untung Bunda belum beli tiketnya.Banyak penumpang yang mengembalikan tiket semi ekspress untuk berganti ke ekonomi.Bunda sempet ragu-ragu, mau naik bus atau ekonomi atau nunggu semi ekspress ya?Teman yang Bunda sms bilang dia akan tetap nunggu semi ekpress di Cilebuet, karena memang ngga ada pilihan lain selian naik kereta.Ya sudah akhirnya daripada nunggu lama Bunda nekat beli ekonomi saja.Harganya sangat murah Rp 2.500,-.Dari stasiun Bogor lumayan padat, karena banyak penumpang semi ekpress sebagian beralih ke ekonomi.Alhamdulillah dapat duduk lagi.Ketidaknyamanan mulai terasa…gerbong yang pengap, banyak pedagang asongan berlalu lalang, pengamen, pengemis dan lagi-lagi rokok!Huh!!!!Tapi ya pasrah aja, lebih baik menikmati saja perjalanan ini.Pelan-pelan pejamkan mata, ngga terasa tertidur berapa lama ya?Begitu Bunda buka mata…Hah!!Penumpang di depan Bunda berjejal tidak ada celahnya, penuhnya bukan main!!Menambah pengap gerbong dan agak susah dapat udara segar.Ups, untung cuaca agak mendung, hujan rintik-rintik, jadi agak adem.Di setiap stasiun berhenti, tapi penumpang masih aja berjubel, yang memang kalau Bunda lihat turunnya di Jakarta semua.1 jam lebih akhirnya kereta sampai juga di Cikini.Dapat pengalaman baru naik kereta ekonomi.

Pulangnya kereta masih juga terlambat, sekitar jam 18:30 kereta baru datang.Lagi-lagi penuh, Bunda kembali lesehan, tapi kali ini lumayan bersandar di pintu jadi ngga terlalu pegel.Cuman takut aja kalau pas pintu tiba-tiba kebuka dan Bunda masih bersandar, kejungkel, hiiii seremm!!Tapi temen bilang, tenang aja, pintu itu akan dibuka di stasiun Bojong, masih lama kok.Asyik, bisa terpejam sejenak…he..he..

Jumat, 9 Februari 2007

Bunda lihat dari jalanan stasiun sudah penuh orang di jalur 2, tempat semi ekpress berhenti.Bunda pikir jangan-jangan kereta dah mau datang nih.Tapi ternyata ngga, emang penumpang lebih banyak dari sebelumnya.Kereta terlambat lagi, baru datang sekitar jam 08:45.Kali ini Bunda ngga dapat tempat duduk, bisa masuk dengan sukses saja sudah bersyukur, berebutan, dorong-dorongan, ngga ada tertibnya!Tapi kali ini ngga bisa lesehan karena gerbong atapnya agak bocor, sepertinya air hujan merembes, hingga lantai gerbong agak becek.Terpaksa berdiri, untung deket jendela yang bisa memandang bebas ke alam raya dan ada pegangannya pula.Lumayan nyaman.Berharap mas-mas yang pada duduk itu kasih tempat duduk ke Bunda (ge-er nih) seperti hari Selasa waktu itu.Ternyata ngga ada yang rela tempat duduknya di duduki orang lain, sampai di stasiun Cikini tetep berdiri, pegell oeiiii!!

Pulangnya Bunda naik kereta yang Bojong karena ekspress yang ditunggu-tunggu penuh sesak dan lama nunggunya.Di kereta Bojong Bunda lesehan lagi, lumayan bisa sedikit melepas penat.Sampai di Bojong nyambung kereta ekonomi.Suasananya jauh dengan kereta ekspress yang terang benderang.Ada beberapa gerbong kereta ekonomi yang ngga ada lampunya.Walah gelap gulita gitu, sudah terbayang ketidaknyamanannya.Bunda pilih naik gerbong yang ada lampunya.Ngga dapat duduk, gerbongnya becek, pangap dan panas.Banyak pedagang yang menawarkan macam-macam dagangannya.Bunda sempet beli jeruk lokam, murah, bagus-bagus jeruknya, manis lagi, 5 ribu dapat enam.Masya Allah Bunda lihat anak usia 5 tahunan, perempuan, cantik, rambutnya di kucir dua, bajunya bersih ngga kumal, bawa sapu yang ngga ada gagangnya, berjongkok sambil menyapu gerbong yang becek tadi dan sesekali menengadahkan tangannya minta sedekah.Trenyuh, sedih banget lihatnya.Jadi ingat Icha di rumah!

Situasi yang Bunda alami saat naik kereta hanya sedikit bisa memberi gambaran betapa tidak nyamannya transportasi di Indonesia.Tidak hanya kereta sebenarnya tapi naik bus, metromini, bajaj pasti deh ada ngga nyamannya.Contoh konkret saja, situasi jalanan menuju Jakarta tiap pagi dan menjelang malam, tidak ada yang tidak macet!Bus penuh sesak, Bunda pernah naik bus yang bocor semua dimana-mana waktu hujan, padahal itu bus AC Rp 5000,- ongkosnya, ahhh ngga ada fasilitas sama sekali!Busway yang memang jadi pilihan utama juga tidak kalah cerita ketidaknyamannya,penumpangnya berjubel di jam-jam kerja, karena bus yang disediakan tiap koridor rasanya belum mampu menampung banyaknya peminat busway.Bunda pernah naik busway koridor VI (Kuningan – Ragunan) dari depan Imigrasi Jaksel menuju kantor.Menunggu ½ jam baru ada busway yang bisa dimasukin 2 orang (Bunda bersama teman Bunda), itupun penuh banget.Dipaksakan naik busway walaupun menunggu lama, karena Bunda lihat jalan Mampang dari Warung Buncit menuju Rasuna Said Kuningan padat merayap.Uphh semakin menambah daftar gambaran semrawutnya Jakarta!

Kalau foto ini, Bunda ama Icha naik KRL Bogor pas Sabtu sore.Tidak penuh, sangat nyaman.Icha bisa tidur-tiduran dan menikmati pemandangan

Ni dia pemandangan sehari-hari jalan Rasuna Said depan Setia Budi tiap hari!Sampai malam pun kadang masih macet.Kalau ngga macet sampai perempatan Mampang hanya 10 menit, tapi kalau macet bisa 1 jam lebih!



14 thoughts on “Berbagi Cerita Naik KRL

  1. rinrinjamrianti said: wah 4 hari ceritanya seru mbak…. sy dulu 3 bulan naik KRL ekonomi, 9 bulan naik pakuan… sekitar tahun 98…. ternyata kondisinya msh mirip ya…. kapan lebih baiknya?

    iya nih Teh, tiap hari ada aja lho ceritanya..
    kapan lebih baiknya??wuaaa kapan ya Teh, kondisi dah 10 tahun yll kok masih sama ya Teh, ngga lebih baik malah tambah semrawut…

  2. nurjanah said: wadow….blm selesai baca neh. tp mo pamit dulu jemput anak-anak..hihi…ntar disambung lagi. jd keingetan dulu suka nae KA ekonomi jkarta – sragen mbak.

    ha..ha..kepanjangan ya mbak cerita saya…hati2 ya jemput anak-anak…
    saya juga pernah naik kereta yang Solo-Jogya hampir sama ama yang di sini, sesak juga, tapi dapat duduk karena naiknya dari solo balapan (kereta balik dari Yogya) penumpang turun semua kita giliran yang dibawa ke Yogya..
    ntar lanjutin bacanya ya mbak…he..he..

  3. nurjanah said: wadow….blm selesai baca neh. tp mo pamit dulu jemput anak-anak..hihi…ntar disambung lagi. jd keingetan dulu suka nae KA ekonomi jkarta – sragen mbak.

    panjang ceritanya tapi seruuu!! perjuangan ya Bun!

  4. nurjanah said: wadow….blm selesai baca neh. tp mo pamit dulu jemput anak-anak..hihi…ntar disambung lagi. jd keingetan dulu suka nae KA ekonomi jkarta – sragen mbak.

    Ceritanya seru banget nich Mbak Ari,perjalanan panjang yach…
    Tapi sayang yach,Tante ngga’ bisa berbagi pengalaman naik KRL,mudah2an nanti yach kalo’ pulang ke Indo,kita sama-sama naik ya sama icha,hehhee..

  5. nurjanah said: wadow….blm selesai baca neh. tp mo pamit dulu jemput anak-anak..hihi…ntar disambung lagi. jd keingetan dulu suka nae KA ekonomi jkarta – sragen mbak.

    sepanjang rel kereta ya mbak Yeni he..he..
    iya kak Tasya nanti kita keliling naik kereta api ya..tut.tut..tut..

  6. nurjanah said: wadow….blm selesai baca neh. tp mo pamit dulu jemput anak-anak..hihi…ntar disambung lagi. jd keingetan dulu suka nae KA ekonomi jkarta – sragen mbak.

    emmhh… kalo aku diposisi si mbak yg diatas (Selasa), aku juga pasti keukeuh sureukeuh mempertahankan bangku yg jadi hakku, tapi jelas ngga pake mencak2 gituh :-))
    wah Bun, aku 3,5 tahun naik KRL Ekonomi😀
    walopun berangkat kadang bareng temen2 kampus, tapi teuteup banyakan sendiriannya😦
    aku sampe’ punya langganan tukang koran, tukang permen…. hampir tiap pagi di gerbong yg sama ketemu sama Bapak2 yg bawa kaleng besar isinya susu sapi yg baru diperah, kdang bareng sama ayam2, ada kodok2 juga :-))
    pernah ada "orang aneh" yg tiba2 naik gerbong membawa senjata mirip bambu runcing, pita merah putih diikat ke kepala, dan dandanan mirip pejoang ’45, langsung berteriak: "TIARAAAAPPP…." :-))))
    pernah juga lagi asyik ngobrol sama temen, ada yg minta2 anak kecil, tapi aku cuwekin ajah, eh saking sewotnya dia kucuekin, pahaku dipukul pake kencringannya dia, sabaaarrr….
    dan sepanjang sejarah berkutat dgn kereta ekonomi, yg paling parah adalah: pulang kul dapet kereta yg lumayan penuh, aku udah dapet tempat berdiri yg nyaman… tiba2 disekitar st. pondok cina, ada orang yg melempar (maaf nih) kotoran manusia ke dalam kereta, alhasil yg kena adalah yg didekat pintu tho? gila yah tuh orang kayaknya udah kurang waras ngelempar pake gituan….. untung aku udah ada di dalam kereta, bukan didekat pintu masuk lagih….
    btw, aku kepanjangan reply ya Bun? hehehe… mau ditambahin nama2 stasiun mulei dari Bogor sampai Kota gag? aku masih hapal lho😛

  7. nurjanah said: wadow….blm selesai baca neh. tp mo pamit dulu jemput anak-anak..hihi…ntar disambung lagi. jd keingetan dulu suka nae KA ekonomi jkarta – sragen mbak.

    wuaaaaaa…asyik baca replynya, serasa ada di sana..ha..ha..tahu gitu khan kita janjian ya mbak waktu masih dari Bogor..he..he..
    ayo mbak tambahin lagi ceritanya, panjang gak papa, seneng bacanya!

  8. nurjanah said: wadow….blm selesai baca neh. tp mo pamit dulu jemput anak-anak..hihi…ntar disambung lagi. jd keingetan dulu suka nae KA ekonomi jkarta – sragen mbak.

    (nyamber lg niy jawabannya) pernah di muat di koran, kira2 judulnya: " kisah cinta di KRL Ekonomi" … and itu bener2 ada lho… ngga sedikit beberapa pasang temen keretaku, rata2 yg udah bekerja, menemukan jodohnya di KRL, bahkan sampai ke pelaminan :-)eiiitt… tapi diriku ngga termasuk😛

    berapa kali aku "dipermainkan" di stasiun Bogor: si Bapak yg bertugas mengumumkan jalannya kereta bilang "kereta di lajur 4 segera di brangkatkan" ngga lama kemudian " karena masih ada perbaikan, kereta yg terlebih dulu berangkat dari lajur 2" bruurrrr orang2 pada pindah, eeehh ternyata "mohon maaf, kereta lajur 4 siap diberangkatkan" ya wisss, ku sudah seball sekali sama permainan inih, ku putuskan ngga jadi berangkat sama sekali…

    berapa kali pernah KRL Ekonomi tiba2 berenti, dan ngga bisa melanjutkan perjalanan lagih, akhirnya naik angkutan lain *mending berentinya pas di stasiun, ini mah udah di tengah2 antara stasiun A ke stasiun B* …pernah terpaksaaa… bangett.. sekali lagih terpasaaaa.. bangett… gara2 kreta ngga bisa jalan lagih antara st. LA ke st Pancasila, aku & b2rapa temenku (rata2 cewek) terpaksa turun dan nyari alternatif lain… akhirnya aku yg di"tugas"kan nyetop mobil orang karena angkot dan bis kecil penuh semua…. untuuunggg… yg ku stop ternyata mobil jemputan, dgn sopan ku bilang: "Pak, maaf yah, kereta kita ngga bisa jalan lagih, boleh ngga kita ikut sampai Depok?" si supirnya bilang: "oh iya, silahkan Mbak…"🙂
    hehehe… tapi itu jadul banget, jaman blum punya hp, dan uang di dompet tinggal berapa ribu dowank…. :-)))
    kalo sekarang ngalamin lagih (dduuh, mudah2an ngga lagi deh), langsung ajah ta’ setop taxi, or tilpun suami sambil sedikit terisak2 di dramatisir…😀 )
    ku pikir2, ku lebih tough dulu dari pada sekarang yah :-)))))

  9. nurjanah said: wadow….blm selesai baca neh. tp mo pamit dulu jemput anak-anak..hihi…ntar disambung lagi. jd keingetan dulu suka nae KA ekonomi jkarta – sragen mbak.

    seru..seru banget ceritanya mbak!!!
    kirain dapat jodoh juga di kereta..:D, tapi itu emang bener, ada beberapa temanku yang berjodoh di kereta.ada juga yang dapat temen sampe kayak sauadara karena ya sering ketemuan naik kereta di jam-jam yang sama, bahkan ada gank-ganknya lho, janjian makan-makan dimana dsb
    untung waktu saya naik kereta ekonomi ngga mogok ya mbak, kalau mogok weleh aku ngga tahu mau kemana nih…he..he..

  10. nurjanah said: wadow….blm selesai baca neh. tp mo pamit dulu jemput anak-anak..hihi…ntar disambung lagi. jd keingetan dulu suka nae KA ekonomi jkarta – sragen mbak.

    hehe.. seru ya naek kreta.. aku juga sempet ngalamin ngantor naek kreta pakuan ekspres (btw skrng ada yg semi ekspres ya??) waktu masih kerja di mangga dua..
    dan pulangnya jadi jalur rel cinta deh.. secara tiap pulang mantan pacar nganterin sampe bogor hehe.. sambil makan bihun&gorengan beli di kota hehe.. ato beli jajanan kalo pas bareng acong, si penjaja makanan gelap di pakuan hihih.. hampir semua orang ud tau sih.. tapi gayanya kaya BD yg lagi melakukan transaksi dgn pembelinya hihihi..

  11. nurjanah said: wadow….blm selesai baca neh. tp mo pamit dulu jemput anak-anak..hihi…ntar disambung lagi. jd keingetan dulu suka nae KA ekonomi jkarta – sragen mbak.

    ho-oh ni mama Natane, baru sekali ini ngrasain naik KRL dari Bogor, seru dapat pengalaman baru..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s